Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Dari Kebun ke Pasar Dunia: Kelapa Indonesia di Tengah Gelombang Harga

Kompas.com, 21 April 2025, 19:32 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Sebaliknya, daerah timur seperti Sulawesi Utara dan Maluku Utara, meskipun memiliki potensi produksi besar, terhambat biaya logistik yang tinggi dan keterbatasan infrastruktur. Kondisi ini mengungkap urgensi pembangunan sistem logistik terintegrasi.

Industri pengolahan santan dan VCO di Kepri, misalnya, terpaksa mengurangi kapasitas produksi karena bahan baku lebih mengalir ke eksportir daripada ke pasar domestik.

Baca juga: Randu: Serat Emas Putih yang Terlupakan

Hal serupa juga terjadi di Jawa Timur dan Sumatera Utara, yang meskipun memiliki akses industri, tetap mengalami tekanan akibat pasokan terbatas dari luar daerah.

Pemerintah pusat telah mengakui bahwa masalah utama bukan pada produksi kelapa, yang tetap stabil di angka 2,8 juta ton pada 2024, melainkan distribusi.

Produksi kelapa Indonesia masih surplus, tetapi tidak tersebar merata dan belum didukung sistem distribusi efisien.

Artinya, yang dibutuhkan bukan larangan ekspor semata, tetapi perbaikan menyeluruh pada sistem logistik, integrasi pasar, dan insentif distribusi antardaerah.

Di tengah tingginya harga pasar, kondisi petani tidak serta-merta membaik secara struktural. Banyak petani masih menjual hasil panen melalui tengkulak atau pengepul desa dengan sistem ijon, di mana mereka sudah menerima pembayaran jauh sebelum panen.

Alhasil, saat harga melonjak pun, keuntungan penuh tidak mereka nikmati. Di sisi lain, industri pengolahan seperti produsen santan, minyak kelapa, VCO, dan briket arang kelapa menghadapi biaya produksi yang melonjak drastis.

Rantai nilai kelapa juga masih timpang. Dari kelapa bulat seharga Rp 8.000 di kebun, nilai tambah bisa melonjak hingga 11 kali lipat bila diolah menjadi VCO.

Namun, sebagian besar petani belum mampu memproduksi VCO karena keterbatasan teknologi, permodalan, dan sertifikasi.

UMKM yang mengolah kelapa menjadi produk bernilai tinggi seperti minyak kelapa murni, nata de coco, gula kelapa, dan cocopeat masih menghadapi kendala akses pasar, dukungan peralatan, dan literasi digital.

Meski demikian, sejumlah inisiatif menunjukkan harapan. Di Sulawesi Utara, beberapa koperasi petani mulai mengolah kopra dan menjual langsung ke pabrik minyak kelapa dengan harga Rp 14.000–16.000 per kg.

Di Lampung dan Bali, UMKM penghasil VCO mulai menembus pasar ekspor dengan bantuan fasilitasi dari pemerintah daerah dan kementerian. Langkah-langkah seperti ini perlu diperluas dan direplikasi di seluruh sentra produksi.

Hilirisasi dan arah kebijakan

Dalam konteks ini, pemerintah perlu membuat kebijakan yang tidak sekadar reaktif, tetapi strategis dan inklusif.

Pertama, mendorong hilirisasi kelapa di tingkat lokal melalui insentif fiskal bagi industri pengolahan yang membangun pabrik di dekat sentra produksi.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Varietas Tanaman
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Varietas Tanaman
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Varietas Tanaman
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Varietas Tanaman
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Varietas Tanaman
Mete Indonesia Makin Berjaya di Pasar Internasional
Mete Indonesia Makin Berjaya di Pasar Internasional
Varietas Tanaman
Dari Kebun Kelapa dan Ladang Jagung Mereka Bangkit
Dari Kebun Kelapa dan Ladang Jagung Mereka Bangkit
Varietas Tanaman
Menguatkan Akar dan Menjahit Masa Depan: Arah Baru Perkebunan Nasional
Menguatkan Akar dan Menjahit Masa Depan: Arah Baru Perkebunan Nasional
Varietas Tanaman
Kopi dan Kayu Manis di Kerinci: Praktik Tumpangsari yang Menjaga Kebun Tetap Hidup
Kopi dan Kayu Manis di Kerinci: Praktik Tumpangsari yang Menjaga Kebun Tetap Hidup
Varietas Tanaman
Secangkir Optimisme Teh Indonesia
Secangkir Optimisme Teh Indonesia
Varietas Tanaman
Ketika Pasar Dunia Menunggu Panen Indonesia
Ketika Pasar Dunia Menunggu Panen Indonesia
Varietas Tanaman
Merawat Kopi dan Kakao Sumatera
Merawat Kopi dan Kakao Sumatera
Varietas Tanaman
Durian Indonesia Tak Berdaya di Pasar Global
Durian Indonesia Tak Berdaya di Pasar Global
Varietas Tanaman
Varietas Unggul dalam Pengelolaan Penyakit Jagung
Varietas Unggul dalam Pengelolaan Penyakit Jagung
Varietas Tanaman
Singkong: Komoditas Strategis yang Terlupakan
Singkong: Komoditas Strategis yang Terlupakan
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau