Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Menguatkan Posisi Teh Indonesia di Pasar Global

Kompas.com, 22 Mei 2025, 19:49 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Pemetik teh kini didominasi pekerja lansia. Di Garut, misalnya, pemuda lebih memilih bertani sayur atau menjadi buruh migran ketimbang meneruskan kebun teh keluarganya.

Baca juga: Mengurai Keruwetan Tata Niaga Kelapa

"Dulu orang tua saya bisa hidup dari teh, sekarang anak muda seperti saya lebih realistis, teh kurang menjanjikan," ujar Deni Hidayat (29), petani muda asal Cianjur.

Dampak perubahan iklim juga tidak bisa diabaikan. Perubahan pola hujan, suhu ekstrem, dan peningkatan intensitas hama telah menurunkan hasil panen di banyak kebun.

Rantai pasok panjang dan harga jual daun teh segar yang rendah (sekitar Rp 1.800–Rp 2.400/kg) membuat pendapatan petani semakin menipis. Dalam kondisi ini, banyak kebun dialihfungsikan menjadi lahan sayur, jagung, atau bahkan properti.

Meski sektor hulu menghadapi krisis, harapan tumbuh dari sektor hilir. Hilirisasi dan inovasi produk teh membuka peluang baru untuk meningkatkan nilai tambah dan memperluas pasar.

Saat ini, produk olahan seperti teh celup, ekstrak, minuman siap saji, serta teh herbal mulai mendapat tempat di pasar domestik dan ekspor.

Perusahaan-perusahaan seperti PT Sinar Sosro dan PT Mayora Indah telah membuktikan bahwa minuman teh dalam kemasan dapat menguasai pasar nasional dan menembus pasar internasional.

Produk teh lokal dalam bentuk organik, teh artisan, dan specialty tea juga mulai diminati di pasar Eropa dan Amerika.

"Pasar kami di Timur Tengah justru tertarik pada narasi budaya teh kami. Konsumen sekarang mencari cerita, bukan cuma rasa," ujar Nia Yulianti, pengusaha teh artisan dari Sumedang.

Beberapa UMKM dan start-up bahkan mengembangkan merek teh dengan narasi asal-usul (origin storytelling) dan praktik pertanian berkelanjutan.

Teh dari Garut, Rancabali, dan Sumatera Barat mulai dikenal sebagai teh premium. Nilai tambah dari teh olahan bisa mencapai 3-5 kali lipat dibanding teh curah.

Peran negara dan lembaga riset

Pemerintah perlu hadir lebih kuat untuk membalikkan tren penurunan industri teh. Program revitalisasi seperti Peremajaan Kebun Teh Rakyat (P2KTR) harus diperluas dan diakselerasi.

Dukungan KUR (Kredit Usaha Rakyat) dengan bunga rendah bagi petani teh perlu dipertahankan.

BUMN seperti PTPN juga berperan strategis sebagai lokomotif teknologi dan produksi. Beberapa unit PTPN telah menerapkan pertanian presisi berbasis digital di perkebunan teh mereka. Ini menjadi model yang patut ditiru dan diadaptasi oleh kebun rakyat.

Baca juga: Randu: Serat Emas Putih yang Terlupakan

Lembaga inovasi seperti BRMP Tanaman Industri dan Penyegar (dahulu Balitri/Balai Penelitian Tanaman Industri) Kementerian Pertanian juga berkontribusi melalui pengembangan varietas unggul seperti Tambi 1 dan Tambi2, serta teknologi budidaya dan pengolahan yang lebih baik.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Dunia Waspadai Krisis Pangan, Wamentan Operasikan Intelijen Pertanian
Dunia Waspadai Krisis Pangan, Wamentan Operasikan Intelijen Pertanian
Berita
Bukan Lagi Gulma Pengganggu, Eceng Gondok Disulap Jadi Solusi Pangan Keluarga
Bukan Lagi Gulma Pengganggu, Eceng Gondok Disulap Jadi Solusi Pangan Keluarga
Varietas Tanaman
Bukan Pupuk Biasa, Rahasia Prebiotik Ini Bikin Daya Jelajah Akar Melonjak 50 Persen
Bukan Pupuk Biasa, Rahasia Prebiotik Ini Bikin Daya Jelajah Akar Melonjak 50 Persen
Varietas Tanaman
Pertanian Global di Ujung Tanduk: Tertekan Inflasi, AI Merajalela
Pertanian Global di Ujung Tanduk: Tertekan Inflasi, AI Merajalela
Berita
Rahasia Klon Robusta Lampung: Pohon Tua 'Disulap' Berbuah Lebat
Rahasia Klon Robusta Lampung: Pohon Tua "Disulap" Berbuah Lebat
Varietas Tanaman
Pohon Teh Digergaji Demi Kebun Sayur, KDM Warning Kiamat Ekologis
Pohon Teh Digergaji Demi Kebun Sayur, KDM Warning Kiamat Ekologis
Berita
Layanan Kesehatan Ternak Masih Minim, Ratusan Sapi di Manokwari Terserang Parasit
Layanan Kesehatan Ternak Masih Minim, Ratusan Sapi di Manokwari Terserang Parasit
Berita
Kalahkan Ekspor Kopi, Biosolusi Diproyeksikan Sumbang Ekonomi Rp 36 Triliun
Kalahkan Ekspor Kopi, Biosolusi Diproyeksikan Sumbang Ekonomi Rp 36 Triliun
Varietas Tanaman
Beras Subsidi Dioplos Jadi Premium, Mentan Amran Murka: Ini Amoral
Beras Subsidi Dioplos Jadi Premium, Mentan Amran Murka: Ini Amoral
Berita
Kalender Warige Disebut Hanya 35 Persen Cocok Saat El Nino dan La Nina
Kalender Warige Disebut Hanya 35 Persen Cocok Saat El Nino dan La Nina
Berita
Golden Alisha, Melon Kuning yang Kian Populer dan Bisa Dipanen 3 Bulan
Golden Alisha, Melon Kuning yang Kian Populer dan Bisa Dipanen 3 Bulan
Varietas Tanaman
Setara Jawa, Beras Papua Barat Dipoles Jadi Produk Premium
Setara Jawa, Beras Papua Barat Dipoles Jadi Produk Premium
Varietas Tanaman
Petani Lebak Sulap Sawah Kering Jadi Ladang Sayur, Omzet Rp 15 Juta Per Bulan
Petani Lebak Sulap Sawah Kering Jadi Ladang Sayur, Omzet Rp 15 Juta Per Bulan
Varietas Tanaman
Petani Aceh Tamiang Panen Padi Pakai Perahu Karet di Tengah Banjir
Petani Aceh Tamiang Panen Padi Pakai Perahu Karet di Tengah Banjir
Berita
Pasok Sayuran Program MBG, Petani Transmigrasi Bangka Selatan Terjamin
Pasok Sayuran Program MBG, Petani Transmigrasi Bangka Selatan Terjamin
Berita
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau