
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Dari sisi perdagangan, kinerja kopi Indonesia juga menunjukkan posisi yang kuat. Pada 2024, nilai ekspor kopi Indonesia (HS 0901) tercatat sekitar 1,638 miliar dollar AS (setara Rp 26 triliun) dengan volume lebih dari 315.000 ton, menempatkan Indonesia di peringkat ketujuh eksportir kopi dunia dengan pangsa sekitar 3,2 persen dari ekspor global.
Amerika Serikat menjadi pasar terbesar dengan pangsa hampir 19 persen, disusul Mesir, Malaysia, serta sejumlah hub Eropa seperti Jerman dan Belgia.
Peta ini menunjukkan bahwa kopi Indonesia telah mengalir ke berbagai pusat konsumsi dunia, baik sebagai produk akhir maupun sebagai bahan baku industri roasting internasional.
Jika kopi adalah kisah tentang asal-usul dan identitas, maka kakao Indonesia hari ini adalah kisah tentang nilai tambah di tengah pasar global yang sedang diuji ketatnya pasokan.
Data International Cocoa Organization (ICCO) menunjukkan produksi kakao dunia pada musim 2023/2024 diperkirakan sekitar 4,489 juta ton dan diproyeksikan naik menjadi 4,840 juta ton pada 2024/2025.
Untuk Indonesia, produksi diperkirakan sekitar 180.000 ton dan meningkat menjadi 200.000 ton pada periode berikutnya.
Angka ini memang belum kembali ke puncak historis masa lalu. Namun posisi Indonesia dalam perdagangan kakao modern tidak lagi semata ditentukan oleh volume biji mentah yang dihasilkan.
Kekuatan Indonesia justru terletak pada hilirisasi. Data Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa sepanjang 2019–2023, ekspor kakao Indonesia didominasi produk olahan, dan pada 2023 porsinya mencapai 96,08 persen atau sekitar 1,15 miliar dolar AS.
Komoditas terbesar adalah mentega/lemak/minyak kakao (HS 1804) dengan porsi 52,34 persen, diikuti bubuk kakao tanpa gula (29,66 persen) dan pasta kakao (14,57 persen).
Bahkan untuk produk mentega kakao, Indonesia tercatat sebagai eksportir terbesar ketiga dunia dengan kontribusi 10,76 persen dari total ekspor global pada 2023.
Ini menegaskan bahwa strategi Indonesia bukan sekadar menambah volume produksi, melainkan memperdalam proses pengolahan agar nilai tambah tetap berada di dalam negeri.
Pasar ekspor kakao olahan Indonesia pun mencerminkan posisi strategis tersebut. Pada 2023, tujuan utama ekspor adalah India, Amerika Serikat, Cina, dan Malaysia, negara-negara dengan industri makanan dan minuman besar serta rantai manufaktur yang kuat.
Dinamika harga global turut memengaruhi kinerja ekspor. Pada Januari–September 2024, volume ekspor kakao Indonesia tercatat relatif stagnan di sekitar 255.000 ton, tapi nilainya melonjak hampir 87 persen menjadi lebih dari 1,6 miliar dolar AS.
Lonjakan nilai di tengah volume yang datar menunjukkan dampak kenaikan harga internasional, sebuah peluang bagi peningkatan devisa, tetapi sekaligus tantangan bagi industri domestik yang membutuhkan pasokan bahan baku dengan harga stabil dan berkelanjutan.
Dunia kini memahami bahwa kopi dan kakao produk yang sangat rentan terhadap cuaca, perubahan iklim, dan gangguan rantai pasok global. Lonjakan harga sepanjang 2024 menjadi cermin nyata betapa sensitifnya pasar.