
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
World Bank mencatat indeks harga minuman dunia naik 18 persen pada Desember 2024 dan masih sekitar 91 persen lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Harga Arabika melonjak dengan kenaikan tahunan lebih dari 60 persen, Robusta lebih dari dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu, sementara kakao meroket sekitar 30 persen hingga menembus rata-rata di atas 10 dolar AS per kilogram.
Fluktuasi ini menunjukkan bahwa pasar global tidak lagi hanya berbicara soal volume produksi, tetapi juga soal kepastian pasokan dan ketahanan sistem produksi di tengah tekanan iklim.
Namun, harga tinggi saja tidak cukup untuk menjamin daya saing. Pasar global kini menuntut keberlanjutan dan kepatuhan regulasi, terutama untuk menembus Uni Eropa melalui skema EUDR yang mendorong produk bebas deforestasi.
Penundaan implementasi hingga akhir 2026 seharusnya menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat fondasi, mulai dari pemetaan kebun berbasis geolokasi, transparansi asal produk, hingga tata kelola rantai pasok yang akuntabel.
Pada saat yang sama, posisi tawar petani harus diperkuat melalui peningkatan mutu, penguatan indikasi geografis kopi, hilirisasi kakao, serta sistem traceability yang solid.
Jika nilai tambah tidak berhenti di industri, tetapi mengalir kembali ke kebun, maka Indonesia bukan hanya menjadi pemasok kopi dan kakao yang “paling dicari”, melainkan mitra dagang yang dipercaya karena kualitas, keberlanjutan, dan integritasnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang