Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cara Budidaya Jewawut, Sumber Pangan Alternatif Penuh Gizi

Kompas.com - 13/01/2023, 08:39 WIB
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Jewawut adalah tanaman lokal yang sudah lama dibudidayakan oleh masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Jewawut adalah makanan penganti beras dan jagung dan umbi-umbian lainnya.

Namun demikian, dikutip dari laman Cybex Kementerian Pertanian RI, Jumat (13/1/2023), jewawut mulai banyak ditinggalkan karena minimnya sosialisasi dan informasi tentang manfaat jewawut. Bahkan, kini banyak orang mengenal jewawut untuk pakan burung saja.

Padahal, jewawut adalah sumber pangan yang mengandung nutrisi tinggi dan bermanfaat untuk kesehatan.

Baca juga: Mengenal Jewawut, Tanaman Pangan Alternatif yang Kaya Nutrisi

Ilustrasi jewawut, sumber pangan alternatif yang kaya nutrisi.SHUTTERSTOCK/8H Ilustrasi jewawut, sumber pangan alternatif yang kaya nutrisi.

Manfaat jewawut untuk kesehatan

Jewawut merupakan bahan pangan yang memiliki kandungan protein lebih tinggi dibandingkan beras yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. Selain itu, jewawut mengandung Omega 3, 6 dan 9, lebih tinggi dibandingkan dengan telur omega.

Manfaat jewawut untuk kesehatan antara lain membantu dalam perkembangan tulang, menurunkan berat badan dan kadar glukosa darah, hingga kemungkinan terhindar dari anemia, kanker dan diabetes.

Jewawut juga memiliki indeks glikemik yang rendah, cocok bagi penderita diabetes.

Cara budidaya jewawut

Tanaman jewawut membutuhkan lingkungan tumbuh yang optimal untuk menghasilkan produksi yang lebih tinggi. Tanaman jewawut bisa ditanam di daerah dengan dengan curah hujan kurang dari 125 mm selama masa pertumbuhan yang pada umumnya tiga sampai empat bulan.

Baca juga: Jenis-jenis Tanaman Pangan Lokal Selain Padi, Apa Saja?

Berikut cara budidaya tanaman jewawut yang baik dan benar agar mendapatkan panen yang maksimal.

1. Pengolahan tanah

Lahan yang baru perlu dilakukan pembersihan seluruh bagian tanaman atau gulma, kemudian membajak atau mencangkul.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya

Serat Alam dan Potensi Pengembangannya

Serat Alam dan Potensi Pengembangannya

Varietas Tanaman
Menjadikan Indonesia Pusat Hilirisasi Kelapa Dunia

Menjadikan Indonesia Pusat Hilirisasi Kelapa Dunia

Varietas Tanaman
'Superfood' Daun Kelor: Nilai Gizi, Ekonomi, dan Lingkungan

"Superfood" Daun Kelor: Nilai Gizi, Ekonomi, dan Lingkungan

Varietas Tanaman
Peluang Budidaya Kurma di Indonesia: Teknologi dan Kisah Sukses

Peluang Budidaya Kurma di Indonesia: Teknologi dan Kisah Sukses

Varietas Tanaman
Purwoceng, Ginseng Lokal Bernilai Tinggi

Purwoceng, Ginseng Lokal Bernilai Tinggi

Varietas Tanaman
Manfaat Ekonomi dan Lingkungan Serai Wangi

Manfaat Ekonomi dan Lingkungan Serai Wangi

Varietas Tanaman
Kakao Indonesia: Dari Potensi Lokal ke Produk Premium Dunia

Kakao Indonesia: Dari Potensi Lokal ke Produk Premium Dunia

Varietas Tanaman
Sensasi Pedas Jaman Majapahit: Memanfaatkan Kembali Cabai Jawa

Sensasi Pedas Jaman Majapahit: Memanfaatkan Kembali Cabai Jawa

Varietas Tanaman
Pala: Warisan Nusantara Menuju Pemanfaatan Global

Pala: Warisan Nusantara Menuju Pemanfaatan Global

Varietas Tanaman
Anggur Muscat dan Keberpihakan pada Buah Lokal

Anggur Muscat dan Keberpihakan pada Buah Lokal

Varietas Tanaman
Mengenal Gula Bit: Inovasi Pemanis

Mengenal Gula Bit: Inovasi Pemanis

Varietas Tanaman
Peluang Stevia dalam Diversifikasi Industri Gula

Peluang Stevia dalam Diversifikasi Industri Gula

Varietas Tanaman
Mengoptimalkan Keunggulan Tanaman Obat Indonesia

Mengoptimalkan Keunggulan Tanaman Obat Indonesia

Varietas Tanaman
Menggali Peluang Ekonomi dan Manfaat Kayu Manis

Menggali Peluang Ekonomi dan Manfaat Kayu Manis

Varietas Tanaman
Kacang Mete: Komoditas Potensial di Lahan Marginal

Kacang Mete: Komoditas Potensial di Lahan Marginal

Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau