Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cara Pemupukan Berimbang pada Tanaman Padi agar Tumbuh Subur

Kompas.com - 31/08/2022, 14:15 WIB
Siti Nur Aeni ,
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Tim Redaksi

Ilustrasi pupuk organik.FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi pupuk organik.

Pupuk organik ini diketahui bisa menyediakan unsur hara lebih baik dibanding pupuk anorganik. Dosis pemberian pupuk dasar sekitar satu sampai dua ton/ha.

Baca juga: Tidak Sulit, Proses Pembuatan Pupuk Kompos dari Sampah Organik

Pupuk pertama

Pada umur padi lima sampai 10 hari setelah tanam, berikan pupuk anorganik sebagai pupuk pertama. Dosis dan jenis pupuk yang diberikan 150 kg/ha phonska.

Apabila petani mempunyai lahan 1.000 m2 cukup menggunakan 15 kilogram pupuk phonska.

Pupuk susulan pertama

Pemupukan berimbang pada tanaman padi juga diberikan saat tanaman berumur 15-21 hari setelah tanam (HST). Saat itu, tanaman memerlukan penambahan pupuk untuk memacu pertumbuhan lebih cepat.

Pupuk susulan pertama yang dapat diberikan adalah 150 kg/ha phonska dan 50 kg/ha urea. Pupuk urea berguna meningkatkan kandung unsur hara nitrogen.

Unsur hara ini berfungsi memicu pertumbuhan daun baru, memperbesar batang, dan meningkatkan pertumbuhan akar.

Baca juga: Efek Samping Pupuk Urea yang Terlalu Banyak untuk Tanaman, Apa Saja?

Pupuk susulan kedua

Setelah pemupukan susulan pertama, tanaman padi masih harus diberi pemupukan susulan kedua. Jenis pupuk yang diberikan adalah urea dengan dosis 50-100 kg/ha.

Pupuk urea digunakan karena pada fase pembentukan malai, suplai makanan sangat dibutuhkan. Pupuk urea yang mengandung nitrogen akan membuat daun tanaman padi lebih hijau sehingga proses fotosintesis bisa berjalan lancar dan membantu penyerapan makanan lebih maksimal.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya

Menjadikan Indonesia Pusat Hilirisasi Kelapa Dunia

Menjadikan Indonesia Pusat Hilirisasi Kelapa Dunia

Varietas Tanaman
'Superfood' Daun Kelor: Nilai Gizi, Ekonomi, dan Lingkungan

"Superfood" Daun Kelor: Nilai Gizi, Ekonomi, dan Lingkungan

Varietas Tanaman
Peluang Budidaya Kurma di Indonesia: Teknologi dan Kisah Sukses

Peluang Budidaya Kurma di Indonesia: Teknologi dan Kisah Sukses

Varietas Tanaman
Purwoceng, Ginseng Lokal Bernilai Tinggi

Purwoceng, Ginseng Lokal Bernilai Tinggi

Varietas Tanaman
Manfaat Ekonomi dan Lingkungan Serai Wangi

Manfaat Ekonomi dan Lingkungan Serai Wangi

Varietas Tanaman
Kakao Indonesia: Dari Potensi Lokal ke Produk Premium Dunia

Kakao Indonesia: Dari Potensi Lokal ke Produk Premium Dunia

Varietas Tanaman
Sensasi Pedas Jaman Majapahit: Memanfaatkan Kembali Cabai Jawa

Sensasi Pedas Jaman Majapahit: Memanfaatkan Kembali Cabai Jawa

Varietas Tanaman
Pala: Warisan Nusantara Menuju Pemanfaatan Global

Pala: Warisan Nusantara Menuju Pemanfaatan Global

Varietas Tanaman
Anggur Muscat dan Keberpihakan pada Buah Lokal

Anggur Muscat dan Keberpihakan pada Buah Lokal

Varietas Tanaman
Mengenal Gula Bit: Inovasi Pemanis

Mengenal Gula Bit: Inovasi Pemanis

Varietas Tanaman
Peluang Stevia dalam Diversifikasi Industri Gula

Peluang Stevia dalam Diversifikasi Industri Gula

Varietas Tanaman
Mengoptimalkan Keunggulan Tanaman Obat Indonesia

Mengoptimalkan Keunggulan Tanaman Obat Indonesia

Varietas Tanaman
Menggali Peluang Ekonomi dan Manfaat Kayu Manis

Menggali Peluang Ekonomi dan Manfaat Kayu Manis

Varietas Tanaman
Kacang Mete: Komoditas Potensial di Lahan Marginal

Kacang Mete: Komoditas Potensial di Lahan Marginal

Varietas Tanaman
Mengembalikan Kejayaan Industri Teh Indonesia

Mengembalikan Kejayaan Industri Teh Indonesia

Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau