Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jenis-jenis Tanaman Pangan Lokal Selain Padi, Apa Saja?

Kompas.com, 26 Desember 2022, 10:37 WIB
Siti Nur Aeni

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia memiliki sejumlah tanaman pangan lokal yang potensial untuk dikembangkan. Dengan demikian, ketergantungan terhadap padi dapat dikurangi dan setiap daerah bisa menegakkan kemandirian pangan.

Dilansir dari Portal Resmi Provinsi Sumatera Barat, Senin (26/12/2022), berikut ini jenis jenis tanaman pangan lokal selain padi.

Baca juga: 6 Jenis Tanaman Pangan yang Ada di Indonesia

Ketela pohon

Ketela pohon atau singkong adalah tanaman tahunan tropika dan subtropika yang banyak tumbuh di Indonesia. Singkong mengandung karbohidrat yang tinggi sehingga dapat menggantikan nasi sebagai makanan pokok.

Ilustrasi budidaya singkong, panen singkong. SHUTTERSTOCK/KHEMFOTO Ilustrasi budidaya singkong, panen singkong.

Selain mengenyangkan, cara menanam singkong juga mudah. Bahkan, tanaman ini bisa ditanam di pekarangan rumah.

Kentang

Kentang merupakan tanaman umbi yang dapat menjadi pengganti nasi. Tanaman ini banyak tumbuh di dataran tinggi.

Di Indonesia, kentang bisa dikonsumsi dengan cara direbus, dikukus, maupun diolah menjadi kue yang rasanya enak.

Baca juga: Cara Menanam Kentang agar Panennya Melimpah

Garut atau arairut

Jenis tanaman pangan lokal lainnya yaitu garut atau arairut. Tanaman ini menghasilkan umbi yang seratnya harus.

Tanaman garut atau arairut cocok dibudidayakan di lahan dengan ketinggian 0 sampai 900 meter di atas permukaan laut (mdpl) dengan iklim panas dan kondisi basah. Sementara itu, jenis tanah yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman ini yaitu tanah berpasir.

Ubi jalar

Tanaman pangan lokal lainnya yaitu ubi jalar. Tanaman ini juga mengandung karbohidrat yang cukup tinggi, sehingga cukup mengenyangkan.

Budidaya ubi jalar juga cukup mudah. Bahkan tanaman ini bisa dibudidayakan di pekarangan rumah atau di dalam pot.

Baca juga: Cara Menanam Ubi Jalar Sistem Monokultur dan Tumpang Sari

Sukun

Sukun sebenarnya tanaman dari New Guinea, Pasifik. Akan tetapi, tanaman ini banyak tumbuh di Indonesia. Tanaman sukun memiliki batang yang menjulang tinggi, bahkan mencapai 10 meter.

Buah sukun yang sudah dipanenShutterstock/xuanhuongho Buah sukun yang sudah dipanen

Tanaman ini menghasilkan buah yang rasanya enak dan mengenyangkan. Buah sukun biasanya diolah dengan cara digoreng, dikukus, dan lain sebagainya.

Talas

Jenis jenis tanaman pangan lainnya yaitu talas. Tanaman ini dapat tumbuh di berbagai tempat mulai dari tepi pantai hingga pegunungan dengan ketinggian 1000 mdpl. Talas termasuk tanaman semusim, sehingga bisa panen beberapa kali dalam satu tahun.

Baca juga: Cara Menanam Talas agar Umbinya Besar

Sagu

Sagu juga termasuk tanaman pangan lokal yang banyak tumbuh di Indonesia bagian timur. Tanaman ini juga menjadi salah satu sumber karbohidrat yang dapat diolah menjadi tepung.

Jagung

Tanaman pangan lokal berikutnya yaitu jagung. Varietas jagung di Indonesia bahkan sangat beragam. Tanaman palawija ini banyak tumbuh di Indonesia karena tanaman ini bisa tumbuh di daerah tropis atau subtropis.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Varietas Tanaman
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Varietas Tanaman
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Varietas Tanaman
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Varietas Tanaman
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Varietas Tanaman
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Varietas Tanaman
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Varietas Tanaman
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Varietas Tanaman
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Varietas Tanaman
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Varietas Tanaman
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Varietas Tanaman
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Tips
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Varietas Tanaman
Nilam, Masihkah Primadona?
Nilam, Masihkah Primadona?
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau