Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cara Menanam Pohon Pisang agar Panennya Bermutu

Kompas.com, 5 Oktober 2022, 14:49 WIB
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Pisang adalah salah satu tanaman buah tropis yang banyak dijumpai di Indonesia. Pisang adalah salah satu jenis buah yang sangat mudah dan cocok tumbuh di Indonesia yang memiliki iklim tropis.

Jenis pisang yang banyak ditanam di Indonesia antara lain pisang susu, pisang raja, pisang ambon, pisang kepok, dan lain-lain.

Dikutip dari laman Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Demak, Rabu (5/10/2022), pohon pisang cukup adaptif jika ditanam baik pada dataran rendah maupun dataran tinggi. Suhu optimal untuk pertumbuhan tanaman pisang berada di kisaran 27 derajat celcius dengan suhu maksimum 38 derajat celcius.

Baca juga: 4 Cara Memperbanyak Bibit Pisang Cavendish

Ilustrasi pohon pisang Cavendish, menanam pisang Cavendish. SHUTTERSTOCK/PP1 Ilustrasi pohon pisang Cavendish, menanam pisang Cavendish.

Tingkat curah hujan yang cocok untuk pertumbuhan tanaman pisang adalah 2.000 sampai 2.500 mm per tahun dengan tingkat keasaman tanah atau pH sebesar 4,5 sampai 7,5.

Agar tanaman pisang dapat berproduksi dengan kualitas baik, maka perlu diperhatian mulai dari memilih bibit, menanam dan memelihara tanaman.

Berikut cara menanam pohon pisang agar memperoleh panen bermutu.

1. Persiapan lahan

Lahan harus bebas dari alang-alang. Kemudian, lakukan pembuatan lubang tanam dengan ukuran 60 x 60 x 50 cm, jarak antar lubang 3 sampai 4 meter.

Baca juga: 5 Tahapan Menyiapkan Bibit Pisang Berkualitas

Setiap lubang selanjutnya diisi pupuk kandang atau kompos secukupnya.

2. Penyediaan bibit

Bibit pisang yang digunakan hendaknya berasal dari anakan-anakan tanaman pisang yang kualitas baik. Bibit berupa tunas, dan pada bonggol yang dibelah yang disebut bit.

Kemudian bit didederkan pada tanah campur pasir 1 : 1.

Ilustrasi pohon pisang, tanaman pisang. UNSPLASH/JEREMY BEZANGER Ilustrasi pohon pisang, tanaman pisang.

Setelah seminggu, bibit mulai berkar dan dipindahkan ke polybag. Selanjutnya setelah dua bulan bibit siap dipindahkan ke lahan dan dimasukkan ke dalam lubang tanaman (1 bibit per lubang).

Baca juga: Mudah, Cara Membuat Pupuk Cair dari Jantung Pisang

Disarankan agar pemindahan tanaman ke lahan sebaiknya dilaksanakan awal musim hujan.

3. Pemupukan

Pemupukan dilakukan dengan campuran 100 gram pupuk ZA, 100 gram pupuk SP dan 150 gram pupuk KCL untuk setiap tanaman.

Pemupukan awal dilakukan setelah tanam sebulan dan pemupukan diulang setiap tiga bulan sekali dengan cara pupuk dibenamkan melingkar di sekeliling tanaman.

4. Penjarangan anakan

Penjarangan anakan dilakukan untuk menjaga keseimbangan pertumbhan sehingga tanaman dapat menghasilkan tandan yang lebih besar dan berkualitas baik. Pilihlah anakan pedang.

Baca juga: Cara Mengendalikan Ulat Pisang dengan Pestisida Nabati Daun Sirsak

Untuk anakan kedua yang dipelihara berasal dari anakan pertama, dan anakan ketiga berasal dari anakan kedua.

Pemeliharaan anakan sebaiknya dimulai setelah indunya berumur empat sampai enam bulan. Pemeliharaan tanaman induk dengan ketiga anakannya.

5. Pemotongan jantung pisang

Pemotongan jantung pisang dilakukan setelah bunga terakhir pada jantung mekar, yang ditandai dengan pertumbuhan buah yang kecil-kecil dan lambat, sisa jantung pisang segera dipotong. Pemotongan jantung tersebut dapat meningkatkan produksi buah 2 sampai 5 persen.

Pixabay/jkopkaPixabay/jkopka Pixabay/jkopka

 6. Pemeliharaan

Salah satu penyakit yang sering menyerang pohon pisang adalah penyakit layu. Penyakit layu pohon pisang terdiri dari layu fusarium dan layu bakteri.

Baca juga: 5 Tips agar Pohon Pisang Cepat Berbuah

Penyakit layu fusarium disebabkan oleh jamur Fusarium oxysparum. Jamur penyebab penyakit ini hidup di dalam tanah, masuk ke dalam akar, selanjutnya masuk ke dalam bonggol dan jaringan pembuluh.

Gejala penyakit layu fusarium adalah sepanjang jaringan pembuluh pada batang semu berwarna coklat kemerahan. Daun menguning dan menjadi layu, tangkainya menjadi terkulai dan patah.

Kadang-kadang lapisan luar batang semu terbelah dari bawah ke atas. Yang paling khas adalah jika pangkal batang dibelah membujur, terlihat garis-garis coklat atau hitam dari bonggol ke atas melalui jaringan pembuluh ke pangkal dan tangkai daun.

Penularan penyakit ini dapat melalui bibit, tanah dan air yang mengalir mengandung spora jamur.

Baca juga: Mengenal Penyakit Pisang Berdarah dan Cara Mengendalikannya

Penyakit layu bakteri disebabkan oleh bakteri Pseudomonas solanacearum. Penyakit ini disebut juga penyakit darah, karena bila akar tinggal atau bonggol tanaman sakit dipotong maka keluar cairan kental yang berwarna kemerahan dari berkas pembuluh.

Gejala penyakit ini pada tanaman pisang adalah layunya daun-daun tua sebelum waktunya, daun menguning dan mati, pada tanaman muda terjadi kelayuan yang menyeluruh.

7. Panen

Pada musim kemarau, pisang sudah bisa dipanen setelah 90 hari sejak keluarnya jantung, dan pada bulan-bulan musim hujan setelah 120 hari.

Ciri-ciri pisang yang sudah siap dipanen antara lain kulit buah menjadi lebih cerah, bentuk buah lebih membulat tidak bersiku dan padat, warna buah pisang agak menguning.

Ilustrasi buah pisang cavendish.PIXABAY/GABRIELA SANDA Ilustrasi buah pisang cavendish.

Baca juga: Manfaat Memotong Jantung dan Membungkus Tandan Buah Pisang

Pada saat panen buah, jangan sampai terjadi banyak luka pada kulit buah akibat benturan atau gesekan agar mutu dan penampakan buah tetap baik dan menarik.

Hal yang perlu diperhatikan pada saat dilakukan pemetikan buah adalah perbandingan antara daging buah (buah sudah membulat) dan mudah patah ujung bunga (kepala putik).

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Varietas Tanaman
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Varietas Tanaman
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Varietas Tanaman
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Varietas Tanaman
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Varietas Tanaman
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Varietas Tanaman
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Varietas Tanaman
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Varietas Tanaman
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Varietas Tanaman
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Varietas Tanaman
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Varietas Tanaman
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Tips
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Varietas Tanaman
Nilam, Masihkah Primadona?
Nilam, Masihkah Primadona?
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau