Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengenal dan Cara Mengendalikan Penyakit Patek Cabai

Kompas.com - 20/01/2024, 01:15 WIB
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Salah satu tantangan dalam budidaya cabai adalah cuaca. Saat musim kemarau, hama tanaman cabai akan berkembang pesat, sementara saat musim hujan patogen penyakit berkembang baik pada kondisi kelembapan tinggi.

Salah satu penyakit yang menyerang tanaman cabai adalah penyakit patek atau antraknosa. Ini adalah penyakit utama tanaman cabai yang menyebabkan kerugian secara ekonomi dan merupakan penyakit penting di daerah tropis maupun subtropis.

Dikutip dari laman Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Bangka Selatan, Sabtu (20/1/2024), penyakit yang disebabkan oleh cendawan Colletotrichum capsici ini berkembang pesat pada kondisi kelembapan yang relatif tinggi.

Baca juga: Cara Menanam Cabai di Lahan Sempit, Mudah untuk Pemula

Ilustrasi penyakit patek tanaman cabai, tanaman cabai terserang penyakit patek atau antraknosa.SHUTTERSTOCK/NINE_FAR Ilustrasi penyakit patek tanaman cabai, tanaman cabai terserang penyakit patek atau antraknosa.

Umumnya serangan penyakit patek pada tanaman cabai di Indonesia akan mengakibatkan kehilangan panen sebesar 14 sampai 30 persen.

Cendawan patek dapat menginfeksi cabang, ranting, daun dan buah cabai. Serangannya dimulai sejak fase perkecambahan, fase vegetatif, fase generatif, hingga pascapanen.

Infeksi pada buah cabai terjadi biasanya pada buah menjelang tua dan sesudah tua.

Gejala penyakit patek tanaman cabai diawali dengan adanya bintik-bintik kecil berwarna kehitam-hitaman dan sedikit melekuk pada permukaan buah. Gejala lebih lanjut adalah buah mengkerut, kering, membusuk dan jatuh.

Baca juga: Tahapan Pengolahan Lahan untuk Menanam Cabai

Bercak berbentuk bundar atau cekung dan berkembang pada buah yang belum dewasa atau matang dari berbagai ukuran. Biasanya bentuk bercak beragam pada satu buah cabai dan ketika penyakit semakin parah, bercak akan bersatu.

Cara mengendalikan penyakit patek cabai

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya

Menjadikan Indonesia Pusat Hilirisasi Kelapa Dunia

Menjadikan Indonesia Pusat Hilirisasi Kelapa Dunia

Varietas Tanaman
'Superfood' Daun Kelor: Nilai Gizi, Ekonomi, dan Lingkungan

"Superfood" Daun Kelor: Nilai Gizi, Ekonomi, dan Lingkungan

Varietas Tanaman
Peluang Budidaya Kurma di Indonesia: Teknologi dan Kisah Sukses

Peluang Budidaya Kurma di Indonesia: Teknologi dan Kisah Sukses

Varietas Tanaman
Purwoceng, Ginseng Lokal Bernilai Tinggi

Purwoceng, Ginseng Lokal Bernilai Tinggi

Varietas Tanaman
Manfaat Ekonomi dan Lingkungan Serai Wangi

Manfaat Ekonomi dan Lingkungan Serai Wangi

Varietas Tanaman
Kakao Indonesia: Dari Potensi Lokal ke Produk Premium Dunia

Kakao Indonesia: Dari Potensi Lokal ke Produk Premium Dunia

Varietas Tanaman
Sensasi Pedas Jaman Majapahit: Memanfaatkan Kembali Cabai Jawa

Sensasi Pedas Jaman Majapahit: Memanfaatkan Kembali Cabai Jawa

Varietas Tanaman
Pala: Warisan Nusantara Menuju Pemanfaatan Global

Pala: Warisan Nusantara Menuju Pemanfaatan Global

Varietas Tanaman
Anggur Muscat dan Keberpihakan pada Buah Lokal

Anggur Muscat dan Keberpihakan pada Buah Lokal

Varietas Tanaman
Mengenal Gula Bit: Inovasi Pemanis

Mengenal Gula Bit: Inovasi Pemanis

Varietas Tanaman
Peluang Stevia dalam Diversifikasi Industri Gula

Peluang Stevia dalam Diversifikasi Industri Gula

Varietas Tanaman
Mengoptimalkan Keunggulan Tanaman Obat Indonesia

Mengoptimalkan Keunggulan Tanaman Obat Indonesia

Varietas Tanaman
Menggali Peluang Ekonomi dan Manfaat Kayu Manis

Menggali Peluang Ekonomi dan Manfaat Kayu Manis

Varietas Tanaman
Kacang Mete: Komoditas Potensial di Lahan Marginal

Kacang Mete: Komoditas Potensial di Lahan Marginal

Varietas Tanaman
Mengembalikan Kejayaan Industri Teh Indonesia

Mengembalikan Kejayaan Industri Teh Indonesia

Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau